Mohon Maaf, Harga Emas Sudah Sulit Nanjak!

Investment - Monica Wareza, CNBC Indonesia
16 June 2020 18:26
Emas Antam (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Schroders Investment Management Indonesia menilai harga emas sudah mentok di level saat ini dan diperkirakan tak akan mampu menembus level US$ 2.000 per troy ounce. Pertimbangannya adalah ekspektasi perekonomian yang membaik sehingga investor melihat dunia bisnis akan kembali bergeliat.

CEO Schroders Indonesia Michael Tjoajadi mengatakan investor memilih mengamankan dananya di emas dalam kondisi perekonomian melambat, bahkan saat mengalami penurunan. Kondisi tersebut terjadi pada saat krisis 2008-2009 dan kembali terjadi pada akhir 2019 hingga awal 2020.

Perkiraan perekonomian yang turun ini membuat harga emas melambung dari US$ 1.200 per troy ounce bisa menguat hingga US$ 1.700 per troy ounce.


"Sekarang ini US$ 1.700 dan sedikit flat saat ini ga tembus US$ 1.800 karena banyak pengusaha melihat ekonomi mulai up sehingga ga banyak yang investasi di emas. Ekonomi mulai pulih, orang mulai investasikan dananya ke bisnis, bukan emas. Ini emas terkendala naiknya karena banyak bilang emas bisa US$ 2.000. Ini yang kita bisa liat saat ini," kata Michael di Jakarta, Selasa (16/6/2020).

Adapun pagi ini di pasar spot, harga emas dunia flat saja di tengah kian agresifnya bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed yang berencana akan membeli obligasi korporasi di pasar sekunder.

Harga emas menguat tipis cenderung flat 0,04% ke US$ 1.726,15/troy ons. Memasuki bulan Juni emas ditransaksikan di rentang tertinggi pada US$ 1.740/troy ons dan terendah di US$ 1.685/troy ounce.

Untuk saat ini harga emas masih dibayangi adanya deflasi, menurut seorang analis dari Saxo Bank.

"Inflasi rendah karena turunnya permintaan dari konsumen dan lambatnya pembukaan ekonomi kembali sehingga mengurangi permintaan emas," kata Hansen Ole, analis Saxo Bank sebagaimana dilaporkan Reuters.

"Secara teknikal, level resisten emas terkuat berada di US$ 1.740 dan aliran dana tak mencukupi," kata Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas di TD Securities.

Namun dengan rendahnya suku bunga, banjir stimulus fiskal serta moneter secara global hingga ancaman munculnya gelombang kedua wabah (second wave outbreak) analis memandang prospek emas jangka panjang masih positif.

Emas merupakan aset minim risiko (safe haven) yang diburu ketika kondisi ekonomi sedang diliputi risiko ketidakpastian. Di sisi lain tingkat suku bunga yang rendah dan banjir stimulus yang ada dalam jangka panjang berpotensi membuat inflasi menjadi lebih tinggi, sehingga emas sebagai aset lindung nilai (hedge) terhadap depresiasi nilai tukar menjadi semakin menarik.


(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading