Pasar Fluktuatif, Ini Bocoran Strategi Investasi Maybank AM

Investment - Monica Wareza, CNBC Indonesia
23 May 2019 15:07
Pasar Fluktuatif, Ini Bocoran Strategi Investasi Maybank AM
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Maybank Asset Management (Maybank AM), anak perusahaan Maybank Asset Management Group, mengungkapkan strategi investasi perusahaan yakni berada di saham-saham dengan tingkat volatilitas rendah di tengah kondisi pasar modal Indonesia yang masih berfluktuasi tinggi.

Namun, perseroan tetap akan fokus pada saham-saham berkapitalisasi pasar atau market capitalization (market cap) besar alias big caps.

CEO Maybank Asset Management Denny R. Thaher mengatakan pihaknya tetap berhati-hati pada investasi di ekuitas, karena data neraca perdagangan yang buruk serta minimnya katalis positif dalam negeri berpotensi masih memberikan tekanan bagi pasar modal nasional.


"Akan tetapi, perseroan melihat ada kesempatan untuk melakukan trading taktis karena kami melihat konflik antara AS dan China tidak sebatas pada perdagangan dan masalah defisit neraca berjalan, yang sebenarnya juga dipengaruhi oleh faktor musiman," kata Denny kepada CNBC Indonesia di Jakarta, pekan ini.


"Kami lebih memilih menjaga tingkat kas yang memadai dan fokus pada saham volatilitas rendah dan berkualitas tinggi dengan tema yang lebih firm-specific. Saham dengan katalis yang kurang positif dalam waktu dekat dengan kepemilikan asing yang besar kami hindari," katanya lagi.

Perseroan tetap optimistis dengan adanya potensi penguatan kembali Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir tahun karena didukung oleh valuasi pasar yang sudah menarik dan normalisasi dari kebijakan fiskal.

Untuk itu, para manajer investasi atau fund manager ini mulai melakukan bargain hunting (berburu saham bagus di harga rendah) untuk beberapa saham big caps.

Denny menjelaskan, volatilitas yang lebih tinggi di pasar ekuitas terjadi setelah komentar bank sentral AS yakni The Fed yang dinilai kurang agresif berkaitan dengan prospek kenaikan suku bunga acuan dan meningkatnya isu perang dagang antara AS dan China. Hal ini berimbas pada aksi jual global karena tidak diantisipasi investor sebelumnya.

Rilis notula The Fed, pada Kamis (23/5/2019) dini hari tadi, menunjukkan bank sentral AS tersebut belum berniat untuk menaikkan suku bunga acuan Fed Funds Rate (FFR) meski kondisi ekonomi terus membaik.

Mayoritas anggota pembuat kebijakan atau Federal Open Market Committee (FOMC) masih akan bersabar dalam mengubah kebijakan moneter. Suku bunga acuan FFR yakni di level 2,25% - 2,50% tidak akan berubah dalam beberapa waktu ke depan meski aktivitas ekonomi AS meningkat, pasar tenaga kerja kuat, dan inflasi juga diprediksi mendekati target 2,0%.

Lebih lanjut, Denny menegaskan bahwa memang ada dampak signifikan dari perang dagang AS-China terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Selain itiu ada risiko negatif dari volatilitas mata uang, arus keluar modal asing ke aset safe haven (rendah risiko), dan melemahnya pertumbuhan ekonomi global.

"Namun, kinerja IHSG yang relatif rendah terhadap regional berarti valuasi IHSG sudah ter-derating [penurunan daya] dan dapat memungkinkan investor untuk memulai bargain hunt, meskipun keinginan tersebut terlihat menghilang begitu data neraca perdagangan yang lemah keluar, ditambah adanya overhang di kondisi politik dalam negeri," kata dia.

Situs resmi Maybank Asset Management mencatat perusahaan mendapatkan izin manajer investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2002.

Simak ulasan tuah reksa dana syariah.
[Gambas:Video CNBC]
(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading