Fund Manager: Rupiah 2019 di Kisaran Rp 14.000-Rp14.500/US$

Investment - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
27 February 2019 - 10:49
Fund Manager: Rupiah 2019 di Kisaran Rp 14.000-Rp14.500/US$
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI) meyakini nilai tukar rupiah akan stabil di sepanjang tahun ini. Mata uang garuda diproyeksikan akan melaju pada level Rp 14.000 hingga Rp 14.500 di tahun 2019.

Direktur Utama MMI Alvin Pattisahusiwa optimistis seiring dengan kondisi pasar yang mulai pulih, Rupiah diprediksi kembali ditransaksikan menguat.

Alvin menjelaskan, kondisi ekonomi tahun 2018 cenderung penuh tekanan, baik yang bersumber dari global maupun domestik. "2018 kita menghadapi badai di tengah kenaikan suku bunga The Fed, sebagai negara emerging markets kita akan sangat terkena dampaknya," kata Alvin saat acara dialog di CNBC Indonesia TV, Jakarta, Selasa (26/2/2019).

Hal itu, kata Alvin, membuat Bank Indonesia (BI) harus menaikkan suku bunga acuannya 175 basis poin sepanjang tahun lalu. "Nilai tukar Rupiah diperkirakan akan bergerak pada level Rp 14.000-Rp14.500 per dollar AS sepanjang 2019," kata Alvin.


Sejalan dengan optimisme itu, pihaknya memperkirakan dana kelolaan atau asset under management (AUM) akan mencapai Rp 61 triliun hingga akhir tahun 2019 atau naik sekitar 15% dari perolehan dana kelolaan di tahun 2018.

PT Samuel Aset Manajemen memproyeksikan nilai tukar Rupiah sepanjang tahun 2019 rata-raa akan bergerak pada kisaran Rp 14.400 - Rp 14.600 per dollar AS. Tekanan global yang mulai reda dan sikap kalem The Federal Reserve menjadi katalis positif bagi Rupiah.

Ekonom PT Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih menjelaskan, laju mata uang garuda, sejak awal tahun ini telah menujukkan penguatan, terutama paska The Fed memberikan sinyal dovish di tahun ini dari perkiraan sebelumnya bakal mengerek bunga acuan 3 kali menjadi hanya satu kali saja. Hal itu, kata Lana akan membantu mengurangi tekanan terhadap mata uang non-dollar.

"Waktu di 2018 itu dollar menguat hampir terhadap seluruh mata uang, termasuk Rupiah, jadi Rupiah tidak sendirian melemah. Fed memberikan sinyal akan lebih dovish, ini memberikan keyakinan terhadap investor bahwa risko sudah berkurang, ketidakpastian sudah menurun," ujar Lana di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (25/2/2019).

Seiring dengan ketidakpastian yang sudah menurun, investor global telah mulai beralih fokus-nya ke negara-negara selain Amerika Serikat.

Dijelaskan Lana, ada potensi ekonomi di dalam negeri membaik, hal itu terlihat dari mulai kembalinya aliran modal asing yang masuk ke pasar saham. Bank Indonesia mencatat, hingga 22 Februari aliran modal asing yang masuk melalui instrumen saham maupun surat berharga negara sekitar Rp 39,4 triliun.

Lana mengungkapkan, secara tren, dalam tiga perhelatan tahun pemilu, secara historis, aliran dana asing mengalami peningkatan. "Ini suatu sinyal yang cukup positif, harapannya bisa menjadikan tahun pemilu ini sentimen positif bagi dana asing, tapi kita harus hati-hati, karena paska tahun pemilu ada potensi dana asing keluar," ujarnya. (hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading