Bisa Bikin Trump Murka, Seperti Ini Sejarah Huawei

Fintech - Roy Franedya, CNBC Indonesia
21 May 2019 15:49
Bisa Bikin Trump Murka, Seperti Ini Sejarah Huawei
Jakarta, CNBC Indonesia - Selama sepekan ini nama Huawei Technologies ramai dibicarakan. Pangkal masalahnya, kebijakan Presiden Donald Trump untuk mendeklarasikan kondisi darurat nasional di teknologi.

Pasca-pengumuman, Departemen Perdagangan AS memasukkan Huawei dan 70 entitas terkait dalam 'daftar hitam' perusahaan yang tidak bisa berbisnis dengan perusahaan AS. Huawei dilarang membeli komponen dan suku cadang dari perusahaan teknologi AS tanpa izin dari pemerintah.



Salah satu dampak kebijakan ini, Google menyatakan tidak akan melisensi perangkat ponsel milik Huawei. Artinya, pengguna tidak akan mendapatkan update terbaru dari software Google. Perangkat baru yang akan diluncurkan juga tidak akan mendapatkan aplikasi premium Google seperti Gmail, YouTube hingga Google Photo.


Beberapa hari kemudian, Departemen perdagangan AS melonggarkan beberapa sanksi. Selama 90 hari mendatang, perangkat Huawei masih bisa mendapatkan update dari Google dan software lainnya, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (21/5/2019).



Lalu, siapa sebenarnya Huawei yang membuat Presiden Donald Trump deklarasikan keadaan darurat nasional?

Huawei didirikan oleh Ren Zhengfei pada tahun 1987. Huawei merupakan perusahaan yang berbasis konsumer inovasi. Pemegang saham Huawei adalah para pekerjanya. Saat ini Huawei memiliki lebih dari 170.000 karyawan.

Bisa Guncangkan Trump, Seperti Ini Sejarah HuaweiFoto: Pendiri dan CEO Huawei, Ren Zhengfei (AP Photo/Vincent Yu)

Huawei kini menjadi perusahaan produsen perangkat telekomunikasi terbesar di dunia. Huawei telah melayani 140 lebih negara dan salah satu perusahaan yang terdepan dalam mengembangkan teknologi internet 5G. Huawei juga menjadi salah satu raksasa teknologi China.

Huawei mulai bermasalah dengan AS ketika masa kepemimpinan Presiden Barack Obama. Kala itu, pemerintah AS menduga Huawei mengelabui bank-bank AS untuk membantu perusahaan bertransaksi dengan Iran. Padahal Iran dijatuhi sanksi ekonomi oleh AS. Tersangka dalam kasus ini adalah Meng Wanzhou, CFO Huawei sekaligus anak dari Ren Zhangfei.



Masalah lain yang muncul adalah terkait teknologi 5G yang dikembangkan oleh Huawei. AS menuduh perangkat produksi Huawei bisa disusupi dan digunakan pemerintah China untuk memata-matai AS.

Tudingan semakin menguat karena latar belakang Ren Zhangfei. Sebelum mendirikan Huawei, Ren Zhangfei muda merupakan mantan perwira militer China. Ia juga disebut-sebut anggota dari Partai Komunis China.



Ren Zhengfei membantah tuduhan spionase tersebut dengan menyatakan Huawei independen dan tidak akan tunduk pada keinginan pemerintah China. Huawei juga menjamin perangkat mereka sangat aman.

Ia menyatakan apa yang dihadapi Huawei sekarang ini lebih terkait dengan masalah politis ketimbang masalah keamanan.


Simak video Trump melarang penggunaan produk Huawei di bawah ini.

[Gambas:Video CNBC]


(roy/prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading