Bank Ramai-ramai Investasi Teknologi Blockchain, Buat Apa?

Fintech - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
19 May 2019 - 14:55
Bank Ramai-ramai Investasi Teknologi Blockchain, Buat Apa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa bank besar di dunia menggelontorkan investasi sekitar US$ 50 juta untuk menciptakan sistem kas digital menggunakan teknologi blockchain.

Investasi sistem blockchain ini sebagai bentuk penyelesaian transaksi keuangan. Sayangnya belum diketahui bank mana saja yang ikut berinvestasi untuk teknologi baru tersebut.

Tapi beberapa bank yang mengungkapkan tengah mengerjakan fase awal proyek blockchain adalah UBS, Banco Santander, Bank New York Mellon Corp, State Street Corp, Credit Suisse Group AG, Barclays PLC, HSBC Holdings Plc dan Deutsche Bank AG.


Sekitar selusin bank diketahui elah berinvestasi menjadi entitas baru untuk menjalankan proyek tersebut.  Dilansir dari Reuters, hingga saat ini kesepakatan masih belum tercapai, sehingga masih terbuka kemungkinan perubahan. Berdasarkan sumber, kemungkinan sistem baru ini dapat diluncurkan pada 2020.

Perbankan Ramai-ramai Investasi Teknologi BlockchainFoto: Aristya Rahadian Krisabella


"Kami adalah anggota Proyek USC dan dapat mengkonfirmasi bahwa tahap Penelitian dan Pengembangan akan segera berakhir," kata juru bicara Barclays dalam pernyataan tertulis, yang dikutip dari Reuters, Minggu (19/05/2019).

Namun juru bicara Barclays tidak mengomentari kesepakatan itu. Perwakilan dari bank lain pun tidak memberikan komentar.

Proyek ini sebelumnya dikenal dengan utility settlement coin, yang pertama kali diusulkan pada 2015 oleh Bank Swis UBS Group AG dan startup berbasis teknologi di London Clearmatics. Proyek ini bertujuan mengembangkan sistem kliring dan penyelesaian di pasar keuangan, supaya lebih efisien.

Blockchain, yang pertama kali muncul sebagai perangkat lunak yang mendukung bitcoin, adalah buku besar bersama dari transaksi yang dikelola oleh jaringan komputer.

Bank dan lembaga keuangan lainnya juga telah menginvestasikan jutaan dolar untuk menguji sistem blockchain baru yang bertujuan mengurangi biaya dan kompleksitas dalam proses keuangan. Ha ini termasuk penyelesaian sekuritas dan pembayaran internasional.

Koin tersebut akan menjadi setara kas digital dari mata uang yang didukung bank sentral seperti dolar atau euro yang akan berjalan pada teknologi berbasis blockchain. Ini akan dikonversi pada paritas dan didukung oleh aset tunai yang disimpan di bank sentral.

Sebelumnya sekelompok bank pun menyatakan telah berdiskuasi dengan bank sentral dan regulator untuk memastikan struktur proyek sesuai.
Selain itu, inisiatif lain di Wall Street sedang mencoba untuk menguji koin digital yang mewakili mata uang fiat yang akan berjalan pada teknologi berbasis blockchain.

JPMorgan Chase & Co mengumumkan pada bulan Februari bahwa mereka telah menciptakan JPM Coin, sebuah token untuk memungkinkan transfer pembayaran instan antar rekening institusi.






(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading