Rogoh Rp 21 T, RI Negara ke-4 Pemilik Satelit Internet Cepat

Fintech - Bernhart Farras, CNBC Indonesia
14 May 2019 11:34
Rogoh Rp 21 T, RI Negara ke-4 Pemilik Satelit Internet Cepat Foto: Muhammad Sabki
Jakarta, CNBC Indonesia - Menkominfo (Menteri Komunikasi dan Informatika) Rudiantara menargetkan semua sekolah di Indonesia akan terjangkau internet kecepatan tinggi.

Untuk mencapai hal tersebut Rudiantara mengatakan dibutuhkan satelit dengan spesifikasi kecepatan tinggi yang didesain fokus untuk Internet atau disebut VHTS (very high throughput satellite) dengan kapasitas 150 Gbps. Karena satelit yang ada saat ini yaitu satelit BRI, Telkom, Indosat, dan PSN (Pasifik Satelit Nusantara) tidak di desain khusus untuk Internet.


"Satelit BRI, Telkom, Indosat, dan PSN digunakan untuk komunikasi, TV dan broadcasting, satelit SATRIA hanya untuk internet," kata Rudiantara, ketika diskusi Rapat Kerja antara Kemenkominfo dengan Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jakarta, Senin (13/5/2019).


Satelit bernama SATRIA (Satelit Indonesia Raya) ini akan mendukung jaringan komunikasi untuk 93.900 sekolah, 47.900 kantor pemerintahan daerah, 3.700 puskesmas, dan 3.900 markas polisi dan TNI yang sulit dijangkau kabel optik. Satelit ini dibutuhkan karena ada 150.000 titik yang tidak dapat akses internet lantaran tidak terjangkau oleh kabel serat optik.

"Ini awalnya karena kebutuhan internet di 150 ribu titik yang tidak mungkin dijangkau alat terestrial. Baru 5 negara di dunia yang pakai teknologi Very High Throughput Satellite di mana kapasitasnya adalah 150 GB," tambahnya.

RI Jadi Negara Keempat Pemilik Satelit CepatFoto: Menkominfo Rudiantara (CNBC Indonesia)

Sebelumnya, sudah ada 3 negara yang menggunakan satelit ini Yaitu Luksemburg, Kanada dan AS (Amerika Serikat)

"Negara pengguna teknologi dengan satelit ini antara lain Luksemburg (Intelsat SA), Kanada (Telesat), dan AS (Amerika Serikat). Ini yang gunakan teknologi Very High Throughput Satellite," ujarnya.

Menurutnya, belum ada operator di Indonesia yang memiliki satelit berkecepatan tinggi seperti proyek yang sekarang sedang digodok pemerintah. Menkominfo mengatakan Indonesia menjadi negara keempat yang memiliki satelit dengan teknologi. Teknologi ini akan digunakan proyek satelit Satria yang akan diluncurkan pada 2022.

Rudiantara mengatakan proyek Satria akan memakan biaya Rp 20,68 triliun dengan masa konsesi 15 tahun. Biaya ini sudah termasuk dengan belanja modal, belanja operasional dan pengembalian investasi yang wajar.

Rudiantara mengatakan Satria akan memulai konstruksi pada akhir 2019 oleh manufaktur asal Prancis Thales Alenia Space. Proses manufaktur akan memakan waktu hingga 2022 dan akan beroperasi pada 2023. Untuk meluncurkan satelit ke luar angkasa, Rudiantara mengatakan roket pendorong masih dipertimbangkan antara memakai rocket dari SpaceX asal AS atau perusahaan Prancis.

Simak video tentang Rudiantara ngomong soal ekonomi digital Indonesia di bawah ini:
[Gambas:Video CNBC]


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading