'35 Tahun Hidup di NTT, Baru Hari Ini Saya Dapat Listrik'

Fintech - Gustidha Budiartie, CNBC Indonesia
12 April 2019 12:34
'35 Tahun Hidup di NTT, Baru Hari Ini Saya Dapat Listrik'
Jakarta, CNBC Indonesia - "Mau pakai payung, Mbak?" Tawar seorang ibu berjilbab putih kembang-kembang, yang melihat saya sangat kepanasan saat meliput acara penyambungan listrik perdana di kampung halamannya, Dusun Rangko, Desa Tanjung Bolen, Nusa Tenggara Timur.

Nuryati nama ibu itu, usianya 35 tahun, tapi sudah punya cucu. "Itu yang sedang sama Pak Jonan, cucu saya," kata dia, Kamis (11/4/2019).

Nama cucunya Husna, kelas dua SD. Bocah perempuan yang sedang berdiri di atas rumah panggung bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, untuk sama sama melakukan aksi simbolik memencet sakelar listrik dan menyalakan lampu. Ini memang untuk pertama kalinya warga Dusun Rangko, bisa mendapat akses listrik di rumah mereka.


"Pasangnya gratis, Mbak. Ini saya sudah 35 tahun di NTT, akhirnya baru kali ini saya dapat listrik. Senang rasanya," Nuryati bercerita, masih sambil menawarkan payung karena tampaknya dia kasihan melihat saya mandi keringat.

Begitu lampu LED menyala di teras rumahnya, sehabis Menteri Jonan memencet sakelar, Nuryati tepuk tangan dengan semangat sambil senyum sangat lebar.

Nuryati bercerita sebelum ada listrik, ia mengandalkan lampu minyak petromaks setiap malam. Termasuk untuk belajar cucunya, Husna. "Kami beli minyak tanah Rp 30.000 sampai Rp 34.000, itu untuk kompor dan pelita. Bisa buat sebulan."

Sekarang, listrik 450 watt sudah masuk ke rumahnya dan disubsidi oleh negara. "Kalau ganti ke listrik, sebulan paling biayanya cuma Rp 10 ribu, lebih murah," ujar Direktur Regional Bisnis Jawa Bagian Timur, Bali, dan Nusa Tenggara PT PLN (Persero) Djoko Abumanan, yang turut hadir di acara pemasangan listrik.

'35 Tahun Hidup di NTT, Baru Hari Ini Saya Dapat Listrik'Foto: Menteri ESDM Ignasius Jonan di Labuan Bajo, NTT. (CNBC Indonesia/Gustidha Budiartie)


Djoko menjelaskan, Nuryati dan warga dusun lainnya mendapat listrik gratis dengan jatah dua lampu dan satu stop kontak.

Nuryati sendiri adalah satu dari 11 ribu rumah tangga yang ditargetkan untuk dialiri listrik secara gratis oleh PLN hingga 17 April mendatang. Dengan 11 ribu rumah tangga terlistriki ini, PLN masih dikejar target untuk melistriki 24.500 rumah tangga lainnya agar NTT terang 100%.

Djoko menuturkan Nusa Tenggara Timur memang salah satu wilayah dengan rasio elektrifikasi terendah di Indonesia. Rasio elektrifikasi mudahnya adalah rasio penduduk yang mendapat akses ke sistem kelistrikan.

Untuk NTT, Djoko menyebut rasionya masih 72% artinya baru 72% rumah tangga di NTT yang teraliri listrik. Jumlah ini naik cukup signifikan sebenarnya dibanding dua tahun lalu yang hanya 61%. "Terdapat 35.500 rumah tangga yang belum dapat listrik, sekarang sudah 11 ribu. Sisanya kita kejar, targetnya bisa sampai 90% tahun ini."

Urusan mengalirkan listrik ini bukan perkara sepele. Sebab, yang memakan waktu adalah membangun infrastrukturnya. Akan menjadi semakin sulit, jika daerah tersebut bahkan belum memiliki akses yang standar seperti jalan yang memadai dan juga lahan untuk menaruh pembangkit.

Jika ingin mudah, sebenarnya PLN bisa saja mengandalkan listrik dari pembangkit diesel yang berbahan bakar minyak. "Tapi kan ke depannya tidak efisien, lalu kita juga harus pikirkan soal konektivitas listriknya. Jadi kalau bisa pakai sumber energi lokal atau ramah. Flores ini ada banyak potensi, dari panas bumi, tenaga surya, bisa dikembangkan."

PLN mengucurkan Rp 5,5 miliar dana CSR untuk melistriki 11 ribu rumah tangga tersebut. Untuk sisanya, Djoko berharap akan ada sinergi dari BUMN lain agar masyarakat cepat bisa dilistriki. "Ini dana paling cepat, kalau pakai anggaran dan lainnya perlu persetujuan. Sementara listrik sangat dibutuhkan cepat oleh warga."

Menteri ESDM Ignasius Jonan pun memberikan perhatian penuh untuk NTT. Ia mengaku sempat kaget sewaktu melihat rasio elektrifikasi di pulau yang terkenal dengan surga pariwisata di timur Indonesia.

Jonan bercerita soal pengalamannya di Papua, pulau tersebut sempat memiliki rasio elektrifikasi 54% artinya masih ada separuh warga yang belum dapat akses listrik. Akhirnya, kementerian ngebut hingga bisa 90% rasio elektrifikasi di bumi cenderawasih.

"NTT sempat 61, kita kebut jadi 72 %. Tahun ini mesti 90%. Sekarang sudah 11 ribu dapat listrik, sisanya kita carikan lagi," kata Jonan.

Soal listrik di NTT, Jonan juga menekankan sumber listriknya harus didorong dengan energi ramah lingkungan. "Kita dorong penggunaan gas, kurangi BBM biar udara bersih. Pembangkitnya harus ecotourism, karena untuk meningkatkan turis di kawasan ini," kata Jonan.

Ke depan, NTT akan jadi provinsi yang menggunakan energi baru. Salah satunya dengan mengandalkan panas bumi dan tenaga surya. "Pulau-pulau yang penghuninya tidak banyak akan pakai PLTS. Nanti disebar di 11 lokasi."

Saksikan video Jerman Tawarkan Teknologi Terbaru Pembangkit Biomassa

[Gambas:Video CNBC] (gus/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading