Grab Bakal Tutup 2018 dengan Suntikan Modal Baru Rp 43 T

Fintech - Bernhart Farras Sukandar, CNBC Indonesia
05 December 2018 15:11
Grab Bakal Tutup 2018 dengan Suntikan Modal Baru Rp 43 T
Hong Kong, CNBC Indonesia - Grab, aplikasi perjalanan paling populer di Asia Tenggara, akan mengakhiri 2018 dengan dana baru sebesar US$ 3 miliar atau Rp 43 triliun (kurs Rp 14.300). Perusahaan berusaha untuk meredam pesaing di wilayah yang memiliki lebih dari 600 juta orang.

Perusahaan rintisan yang berbasis di Singapura telah mengumpulkan lebih dari US$ 2,7 miliar sepanjang tahun ini dan akan bertambah menjadi  US$ 3 miliar "sebelum bel Tahun Baru berbunyi," kata Presiden Grab Ming Maa dalam sebuah wawancara Selasa (4/12/2018) dilansir dari CNN Business.

Pendanaan baru, yang mencakup investasi US$ 1 miliar dari Toyota pada Juni, meningkatkan valuasi Grab lebih dari US$ 11 miliar, menurut seseorang yang akrab dengan perusahaan.


Pada Maret, Grab menjadi berita utama internasional ketika mengakuisisi operasi Uber di delapan negara Asia Tenggara. Perusahaan yang saat ini sudah mendominasi pasar, tidak lagi ingin dikenal sebagai perusahaan berbagi tumpangan "ride hailing".

Grab ingin menjadi "platform gaya hidup harian," kata Maa, karena memperluas ke bidang-bidang seperti pembayaran digital dan layanan perawatan kesehatan.

Membangun Super App

Berusaha mengikuti jejak Tencent yang membangun aplikasi WeChat yang sangat populer di China. WeChat telah menjadi tempat di mana lebih dari satu miliar orang dapat melakukan segalanya mulai dari memesan kendaraan, bermain game hingga melakukan pembayaran online serta membuat janji dengan dokter.

Aplikasi semacam ini sangat menarik di Asia Tenggara karena sebagian besar pengguna memiliki smartphone kelas bawah yang tidak memiliki ruang untuk banyak aplikasi yang berbeda.

Grab juga memposisikan diri sebagai aplikasi untuk segala sesuatu, di saat perusahaan teknologi di Amerika Serikat (AS) dan negara lain berada di bawah pengawasan ketat atas kesalahan penanganan data pengguna dan privasi.

Memiliki satu perusahaan yang tahu kapan Anda memesan tumpangan, makanan apa yang Anda sukai, berapa banyak yang Anda bayar untuk memotong rambut dan dokter mana yang Anda kunjungi. Hal ini mungkin tidak cocok dengan semua konsumen.

Maa mengatakan Grab "sangat fokus" pada keamanan dan privasi. Perusahaan juga terbuka dengan pengguna dan mitra bisnis mengenai data yang dikumpulkan serta bagaimana cara penanganannya.

"Saya pikir tantangannya adalah ketika Anda tidak transparan tentang bagaimana Anda menggunakan data," katanya. "Kalau begitu, Anda bisa masuk ke beberapa tantangan yang sangat signifikan."


Pertama Uber, sekarang Go-Jek

Pengaruh Grab di Asia Tenggara berhasil meraih 125 juta pengguna. Kritik pun muncul dari regulator, pelanggan, dan pengemudi yang menuduh perusahaan itu menjalankan bisnisnya seperti monopoli.

"Kami tentu tidak memiliki monopoli di pasar-pasar ini," kata Maa. "Ada persaingan yang hidup di setiap pasar tempat kami beroperasi."

Tantangan terbesar datang dari Go-Jek Indonesia, yang minggu lalu meluncurkan aplikasi versi beta naik-nya di Singapura yang merupakan "rumah" Grab.

Go-Jek, yang didukung oleh Tencent, dilaporkan berusaha mengumpulkan US$2 miliar untuk ekspansi.

Perusahaan juga memposisikan diri sebagai aplikasi untuk semua hal dan telah banyak berinvestasi dalam pembayaran seluler serta pengiriman sesuai permintaan seperti makanan dan bahan makanan.

Di pasar Indonesia, Grab sudah berada di deoan Go-Jek, yang menyediakan lebih dari 50% market share di negara itu, menurut Maa. Ia menyambut kompetisi baru di Singapura.

"Saya pikir itu akan sangat menarik untuk melihat bagaimana mereka tampil dan bagaimana mereka bersaing ketika mereka keluar dari lapangan rumah mereka," katanya.


Lebih dari pendapatan $ 1 miliar

Grab memiliki pendukung kelas berat sendiri, termasuk SoftBank Jepang dan perusahaan rintisan yang terkenal di China, Didi Chuxing. Uber juga berakhir dengan saham hampir 28% di perusahaan ketika menjual operasi regionalnya.

Grab pertama kali meluncurkan layanan berbagi tumpangan di Malaysia pada tahun 2012, diikuti oleh Filipina, Thailand dan Singapura pada tahun 2013. Sekarang Grab tersedia di 8 negara.

Tahun ini, Perusahaan akan menghasilkan pendapatan lebih dari US$ 1 miliar dan ingin menggandakan jumlah itu pada 2019, menurut Maa. Tetapi seperti banyak perusahaan rintisan lainnya, Grab belum menghasilkan keuntungan.

"Kami sedang mengusahakannya," kata Maa.


[Gambas:Video CNBC]


(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading