Wah, Kemacetan Jakarta Bisa Diurai Dengan Kecerdasan Buatan

Fintech - Donald Banjarnahor, CNBC Indonesia
23 November 2018 11:47
Wah, Kemacetan Jakarta Bisa Diurai Dengan Kecerdasan Buatan
Jakarta, CNBC Indonesia - Grab dan National University of Singapore (NUS), tengah mengembangkan teknologi artificial intelligence (AI) yang secara khusus didedikasikan untuk membantu mengatasi kemacetan parah di sejumlah kota-kota Asia Tenggara, termasuk Jakarta.

Deputy Director NUS Institute of Data Science sekaligus Co-Director Grab-NUS AI Lab, Professor Ng See-Kiong, mengungkapkan pihaknya sedang mengembangkan algoritma khusus dari big data yang dimiliki Grab maupun riset NUS untuk memecahkan masalah kemacetan di sejumlah kota seperti Jakarta, Singapura, Manila, Bangkok, Kuala Lumpur, dan Phnom Penh.

"Riset dikembangkan dari algoritma untuk mendeteksi lalu lintas dan memprediksi arus perjalanan urban atau informasi perjalanan domestik," terang See-Kiong, seperti dikutip dari detikcom, Jumat (23/11/2018).


Grab sendiri sejak 2012 telah mengumpulkan big data yang besarnya mencapai 3 Petabytes. Ini setara dengan rekaman video HD selama 40 tahun atau 690.000 DVD. Investasi awal untuk AI Lab ini mencapai SG$ 6 juta.

Pihaknya saat ini juga sedang membuat algoritma AI untuk menentukan lokasi akurat perpindahan kendaraan. Kemudian mengindentifikasi dan memetakan layanan-layanan transportasi, termasuk transportasi publik. Hal ini memungkinkan pemerintah bisa menentukan lokasi-lokasi yang sangat akurat untuk kemudian mengoperasikan transportasi massal, maupun kebijakan pengaturan kendaraan lainnya.

Menurut See-Kiong, penyusunan algoritma AI ini mencakup penggunaan big data dari Grab terkait perilaku dan kebiasaan pengendara dari mitra-mitra Grab maupun konsumen. Dia mencontohkan, dengan menggunakan data dari Grab, pihaknya bisa mengidentifikasi titik-titik di Jabodetabek yang meliputi penumpukan kendaraan, pergerakan manusianya, hingga kecepatan kendaraan, lengkap dengan data waktu yang realtime.

"Anda bisa lihat di Jakarta saat jam pagi dan malam berbeda arus lalu lintasnya, arus kendaraannya bergerak kemana saja. Sama halnya dengan kota lain seperti Singapura dan Kuala Lumpur. Data ini pula sangat penting, bisa dipakai nantinya bisa dipakai untuk AI pada mobil tanpa supir," jelas See-Kiong.

Dia menuturkan, saat ini, pemerintah Singapura sudah menggunakan data yang dikembangkan dari algoritma yang dikembangkan labnya tersebut. Big data pergerakan kendaraan beserta penghuni kota sangat penting untuk menentukan lokasi pemberhentian transportasi masal.

"Di Singapura sendiri, ketika pemerintah mau menentukan lokasi hunian untuk warganya, pemerintah Singapura akan melihat pergerakan kendaraan dan titik-titik awal tujuan. Baru kemudian ditentukan lokasi yang pas. Kami juga akan menawarkan solusi ini ke pemerintah lain, termasuk Jakarta," ujar See-Kiong.


[Gambas:Video CNBC]




(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading