Mengekor China, Fintech RI Bisa Sumbang PDB Rp 700 Triliun

Fintech - Houtmand P Saragih & Arif Gunawan, CNBC Indonesia
19 July 2018 09:15
Mengekor China, Fintech RI Bisa Sumbang PDB Rp 700 Triliun
Jakarta, CNBC Indonesia -- Industri teknologi finansial (financial technology/fintech) diprediksi tumbuh pesat di Indonesia, dan bakal menyumbang US$48 miliar (Rp 700 triliun) terhadap perekonomian nasional pada 2022.

Proyeksi tersebut disampaikan UOB Global Economics and Market Research dalam laporannya berjudul "Indonesia: Assessing The Digital Economy's Potential" yang dirilis pada Rabu (18/7/2018).

Dalam riset tersebut, bank berbasis di Singapura ini mengacu pada model pertumbuhan fintech di China yang saat ini menduduki posisi kedua dunia dalam hal industri fintech. Indonesia dinilai memiliki kesamaan dengan habitat fintech di China dalam hal potensi pasar, penetrasi internet, dan regulasi.


"Kemajuan China beberapa tahun terakhir menjadi model bagi cetak biru di negara emerging market termasuk Indonesia," tutur Ekonom UOB Enrico Tanuwidjaja.

Optimisme tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa pasarnya sangat besar, dengan nilai tengah (median) usia masyarakatnya di angka 30,2 tahun.

Di sisi lain, 51 fintech telah tercatat di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menunjukkan kuatnya posisi industri ini, ditopang penetrasi internet dan layanan berbasis gadget.

"Sebagai perbandingan, tingginya penetrasi pengguna telepon seluler di China teridentifikasi sebagai salah satu faktor kunci di balik cepatnya tingkat penggunaan layanan digital, sehingga mendorong pertumbuhan perusahaan seperti Alibaba dan Tencent

China saat ini memiliki valuasi startup senilai total US$311 miliar, menjadi habitat bagi 30% startup yang ada di dunia. Amerika Serikat berada di posisi wahid dengan total valuasi US$396 miliar.

Indonesia berada di posisi ketujuh dengan total valuasi startup fintech senilai US$6,3 miliar, menempel Korea Selatan sebesar US$10,8 miliar. Namun untuk Asia Tenggara, Indonesia memimpin. Singapura menempel ketat di posisi kedua dengan nilai valuasi US$6 miliar.

Menurut riset UOB, fintech bakal diterima luas di Indonesia karena 69% masyarakat Indonesia--sebagaimana hasil survei Bank Dunia--memilih transaksi pembayaran non tunai. Persentase ini merupakan yang tertinggi kedua di Kawasan, setelah Singapura. (ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading