Liputan Khusus

Fenomena Bisnis Startup Indonesia yang Digandrungi Milenial

Fintech - Arina Yulistara, CNBC Indonesia
06 May 2018 08:49
Fenomena Bisnis Startup Indonesia yang Digandrungi Milenial
Jakarta, CNBC Indonesia - Di era yang serba digital banyak anak muda Indonesia yang tertarik membuat startup atau perusahaan rintisan berbasis teknologi. Sebelum berkecimpung di dalamnya, penting untuk memahami apakah startup itu sebenarnya.

"Startup sebenarnya perusahaan rintisan seperti pada umumnya saja, siapa pun yang baru mulai usaha dan masih dirintis namanya startup. Cuma belakangan startup identik dengan teknologi," jelas Yansen Kamto selaku Chief Executive Kibar Kreasi Indonesia yang menaungi 137 startup lokal, saat ditemui CNBC Indonesia di kantor Kibar, Jl. Raden Saleh, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (3/5/2018).


Pernyataan serupa diungkapkan oleh pendiri aplikasi Code for Indonesia, Prasetyo Andy Wicaksono. Pria dengan sapaan akrab Paw itu mengatakan startup merupakan perusahaan baru yang bahkan model bisnisnya terkadang masih belum jelas. Paw juga menambahkan startup berbeda dengan bisnis konvensional seperti usaha kecil dan menengah (UKM).


"Bedanya startup dan UKM konvensional, UKM bisnis modelnya sudah jelas, lumayan proved. Sedangkan kalau startup tidak hanya mengeksplor produknya tapi justru baru mengeksplor bisnis model juga," papar Paw.

[Gambas:Video CNBC]

Fenomena Startup di Indonesia

Bisnis startup di Indonesia mulai menjadi tren dan banyak digandrungi milenial sejak lima tahun belakangan. Yansen melihat startup berbasis teknologi digital sebenarnya sudah mulai bermunculan sejak 2010. Startup sejenis kemudian terus tumbuh dan berkembang menjadi perusahaan besar sehingga menginspirasi milenial lain mencoba bisnis serupa.

Yansen mengatakan perkembangan teknologi semakin memudahkan setiap orang untuk membuka usaha. Belum lagi kehadiran media sosial yang memudahkan para pelaku usaha baru untuk berpromosi.

"Fenomena startup maraknya itu 2013-2014, [ditandai dengan] munculnya Gojek, Tokopedia, Traveloka, Bukalapak, walaupun mereka sebenarnya sudah mulai dari 2010-2011. Ini karena digital sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan mengubah banyak hal, termasuk cara kita berteman sampai jalan-jalan, dan ini sebuah peluang buat milenial," kata Yansen.

Paw juga menilai kalau banyak milenial yang tidak lagi berpikir setelah selesai kuliah harus dapat kerja di perusahaan ternama. Namun, mereka berpikir bagaimana menciptakan sesuatu yang keren dan bisa memberikan solusi bagi berbagai masalah dalam masyarakat.

Sayangnya, tak sedikit milenial yang berangkat dengan tujuan salah ketika mendirikan startup, seperti ingin terlihat keren atau menjadi populer. Pria 28 tahun itu juga menambahkan bahwa hampir semua pendiri startup lokal mengalami kegagalan di awal usaha.


Meski demikian, jika mereka tidak menyerah dan terus mau mencoba maka bisa membangun startup menjadi perusahaan besar. Maka dari itu, perlu disadari bahwa startup adalah bisnis yang nyata bukan hanya sesuatu untuk membuat Anda terlihat keren.

"Menariknya kalau kita bikin startup hampir pasti gagal. Ada riset [yang menunjukkan] 98% startup gagal dan hanya 2% yang berhasil langsung. Nah, ini yang sebenarnya perlu disadari bahwa bikin startup pada akhirnya bikin bisnis. Jatuh-bangun usaha itu pasti akan terjadi karena startup lebih challenging," ujar Paw. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading