Fintech

Fintech Lending Harusnya Tak Bebankan Bunga Tinggi

Fintech - Gita Rossiana, CNBC Indonesia
06 March 2018 10:20
Fintech Lending Harusnya Tak Bebankan Bunga Tinggi
Jakarta, CNBC Indonesia - Tingginya bunga yang dibebankan Fintech lending pada peminjam (borrower) menjadi sorotan. Bunga yang tinggi dianggap cukup memberatkan sehingga dituding menjalankan praktik layaknya rentenir.

Padahal selama ini Fintech lending mengklaim meningkatkan inklusi keuangan. Tetapi apakah kemudahan akses keuangan yang diberikan harus dibayar dengan bunga yang tinggi?

Menurut Pengamat Ekonomi dari Institute Development for Economics and Finance (Indef) Eko Listianto, dari sisi kemudahan dan kecepatan proses, penyelenggara Fintech lending tentunya bisa lebih baik dari bank. Namun jika bunga yang ditetapkan masih di atas bunga bank maka keberlanjutan tidak akan mudah.


"Artinya disamping mudah dan cepat, aspek bunga yang lebih murah atau kompetitif juga sangat penting," kata dia kepada CNBC Indonesia, Selasa (6/3/2018).

Eko mengatakan, apabila bunga ataupun bagi hasil menjadi mahal, maka penyelenggara Fintech bisa terjebak pada kualitas peminjam yang rendah atau borrower yang mau membayar bunga berapa saja asal mendapat pinjaman. "Akibatnya risiko kredit macet dapat meningkat," ungkap dia.

Padahal dengan pendekatan teknologi, seharusnya Fintech lending bisa menganalisa risiko  peminjam berdasarkan portofolio dan perilaku digital borrower. Hal ini tentunya dapat meminimalkan risiko kredit macet.

Selain itu, dengan penggunaan teknologi Fintech lending harusnya lebih efisien dari perbankan. Misalnya, mereka tidak perlu lagi membuka banyak cabang untuk menjangkau konsumennya. Fintech lending juga tidak butuh banyak karyawan karena sebagian perannya telah digantikan teknologi.

"Nah, ujung dari kemampuan profiling tersebut harus terepresentasikan dari tingkat bunga yang lebih efisien dibanding bank umum," papar Eko. (roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading