E-commerce

Amazon Go, Masa Depan Berbelanja

Fintech - Ester Christine Natalia, CNBC Indonesia
23 January 2018 15:52
Amazon Go, Masa Depan Berbelanja
Jakarta, CNBC Indonesia – Seperti apa pengalaman berbelanja di masa depan? Swalayan terbaru yang dibuka oleh Amazon, perusahaan e-commerce terbesar di dunia, kurang lebih menggambarkannya dengan tepat.

Amazon membuat terobosan dengan resmi membuka swalayan otomatis pertamanya yang sudah lama ditunggu-tunggu pada hari Senin (22/1/2018).

Di swalayan bernama ‘Amazon Go’ ini, Amazon menerapkan teknologi yang membuat pembeli tidak perlu mengantre di kasir untuk membayar belanjaannya, seperti dilansir dari CNBC Internasional. Untuk saat ini, toko Amazon Go hanya dibuka di satu lokasi yaitu di pusat kota Seattle, Washington, Amerika Serikat (AS).


Pembeli hanya perlu mengunduh aplikasi Amazon Go di ponsel pintar mereka, memindai (scan) aplikasi tersebut di pintu masuk swalayan, mengambil barang-barang yang dibutuhkan lalu keluar begitu saja.


Ya, keluar begitu saja tanpa harus menggesek kartu kredit atau kartu debit di mesin EDC (electronic data capture) kasir untuk membayar sehingga pembeli mungkin akan merasa seperti baru selesai mengutil. Namun, sebenarnya setiap barang yang berada di rak sudah terlacak secara otomatis oleh sistem Amazon.

Hanya dalam hitungan menit setelah meninggalkan toko dengan kantong berisi belanjaan, pembeli akan langsung menerima nota total tagihan di aplikasi. Untuk membayarnya, mereka hanya perlu mentransfer sejumlah uang yang telah ditentukan.

Bagaimana Amazon melacak barang-barangnya? Caranya adalah dengan memasang ratusan kamera di langit-langit toko yang memiliki luas sekitar 167 meter persegi. Kamera-kamera inilah yang akan mendeteksi setiap barang yang diambil atau dikembalikan lagi ke rak, dan dibawa ke luar toko.

Teknologi yang diterapkan Amazon Go dapat mendeteksi semua barang di dalam toko tanpa menggunakan alat sensor tertentu. Pengembangan sistem deteksi belanjaan tanpa sensor inilah yang membuat pembukaan toko Amazon Go tertunda selama sekitar satu tahun.

Raksasa teknologi AS itu tidak memberi penjelasan lebih lanjut tentang cara kerja sistem tersebut.

Seperti dikutip dari The New York Times, wakil direktur Amazon Go Gianna Puerini mengatakan bahwa pihaknya belum memiliki rencana untuk membuka lebih banyak swalayan sejenis atau menerapkan teknologi serupa di swalayan Whole Foods, yang baru saja diakuisisi Amazon tahun lalu.

Teknologi ini tentu saja dapat membuat hidup terasa lebih praktis, tetapi jika semakin banyak swalayan mulai menerapkan teknologi ini, maka banyak orang yang bekerja sebagai kasir terancam nasibnya.

Amazon sendiri mengaku masih membutuhkan tenaga manusia untuk tokonya. Ketika pembeli menemui masalah atau kesulitan dalam mencari barang, mereka bisa meminta bantuan para karyawan toko yang berada di sekitarnya.

“Kami hanya menempatkan para karyawan untuk mengerjakan tugas-tugas lain yang menurut kami akan menambah pengalaman berbelanja para konsumen,” kata Puerini yang dikutip oleh The New York Times.

Nick Wingfield, reporter dari The New York Times, sempat mencoba untuk mengelabui sistem Amazon Go dengan mengambil satu pak minuman bersoda rasa vanila seharga US$4,35 atau setara dengan Rp 57,920 dan menyembunyikannya di bawah lengan ketika keluar dari toko. Ternyata, sistem masih dapat mendeteksi kaleng soda itu dan memasukkannya ke tagihan Nick.


Lain halnya dengan pengalaman yang dialami oleh Deirdre Bosa, reporter CNBC Internasional, yang juga mencoba berbelanja di Amazon Go. Sistem toko justru gagal mendeteksi satu gelas yogurt yang ia ambil dari rak.

Ketika Bosa menyampaikan hal itu ke Amazon, perusahaan justru menggratiskan yogurt tersebut dan mengatakan kesalahan seperti itu sangat jarang terjadi.

“Sebelumnya, selamat menikmati yogurt itu dan biar kami yang membayarnya,” kata Puerini, seperti dikutip dari CNBC Internasional.

“Hal ini sangat jarang terjadi sehingga kami bahkan merasa tidak perlu menambahkan fitur pengaduan bila hal sejenis terjadi. Jadi, terima kasih karena sudah jujur dan menyampaikannya ke kami. Kami sudah mengembangkan [teknologi] ini selama setahun dan belum pernah mengalami masalah,” tambahnya.

Antusiasme masyarakat pun terlihat sangat tinggi. Meskipun Amazon Go mempromosikan slogan “tanpa antrean”, buktinya para konsumen tetap perlu mengantre untuk memasuki toko tersebut.

Twitter Ryan PetersenFoto: Twitter
Twitter Ryan Petersen
(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading