Pajak Juga Jadi Alasan Go-Jek Cs Diserbu Investor Asing

Fintech - Roy Franedya, CNBC Indonesia
19 January 2018 14:44
Pajak Juga Jadi Alasan Go-Jek Cs Diserbu Investor Asing
Jakarta, CNBC Indonesia — Meski sering mengklaim sebagai karya anak bangsa, nyatanya perusahaan rintisan (startup) yang memiliki valuasi diatas US$1 miliar atau setara Rp 13,5 triliun (asumsi US$1 = Rp 13.500) atau yang sering disebut unicorn telah dikuasai investor asing.

Terbaru, Go-Jek yang baru saja mendapatkan dana segar sebesar US$1,2 miliar (Rp 16,2 triliun). Dana ini berasal Alphabet, induk usaha Google, Temasek dari Singapura dan platform online China Meituan-Dianping serta beberapa investor eksisting.

Kenyataan ini menimbulkan tudingan terjadinya penjajahan ekonomi model baru. Benarkah?


Wakil Sektretaris Jenderal Asosiasi Modal Ventura Untuk Startup Indonesia (Amvesindo) Rimawan Yasin mengatakan startup unicorn merupakan perusahaan rintisan yang modal bisnis sudah terlihat menjanjikan dalam mencetak keuntungan. Untuk berkembang menjadi startup yang bisa mencetak laba mereka membutuhkan dana investasi dalam jumlah besar.


Masalahnya, Indonesia kekurangan investor dan modal ventura lokal yang memiliki kapasitas besar yang mampu menyediakan dana ratusan juta dolar untuk satu perusahaan. Kalaupun ada mereka enggan menyuntikkan dana.

“Kebanyakan modal ventura Indonesia hanya mampu menyediakan dana dalam jumlah ribuan dolar hingga jutaan dolar saja. Kalau dana ini diberikan pada startup unicorn tidak akan cukup membantu mereka untuk menjalankan bisnisnya. Saat ini salah satu modal ventura terbesar di Indonesia adalah Pertamina Dana Ventura tetapi mereka pun belum masuk ke startup unicorn,” ujar Himawan.

Faktor lainnya, kurang bersahabatnya kebijakan pajak di Indonesia. Pemerintah mengenakan pajak pada modal ventura yang mendapatkan dividen dan ketika modal ventura keluar dari startup. Padahal di negara lain kebijakan pajaknya lebih bersahabat.


Singapura misalnya. Modal ventura yang keluar dari startup tidak kena pajak. Modal ventura hanya dikenakan pajak ketika mendapatkan dividen. Besaran pajaknya juga tak terlalu tinggi.

“Bagi investor asing aturan pajak di Indonesia bukan masalah. Pajak yang harus mereka bayarkan mengikuti aturan negara asal mereka,” tambah Himawan.

Himawan menjelaskan asosiasi sebenarnya sering mengundang startup unicorn untuk presentasi kebutuhan mereka. “Tetapi masalahnya pada kapasitas lagi. Karena tak ada yang mampu dan mau mereka memilih cari investor di luar negeri,” ujarnya.  

Informasi saja, saat ini baru ada empat startup lokal berstatus unicorn di Indonesia. Yakni, Traveloka, Tokopedia, Go-Jek dan Bukalapak. Bukalapak mengklaim satu-satunya startup unicorn lokal yang pemegang sahamnya adalah investor lokal.
(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading